KELEMAHAN MANUSIA

"Kelemahan manusia" ibarat lahan yang sangat subur bagi setan untuk mencapai tujuanya. Jika sarana sarana yang digunakanya dalam lahan tersebut, tidak diragukan lagi setan pasti berhasil. Memang manusia selalu dipuji Allah dalam berbagai ayat, bahkan Allah sangat memulyakan manusia bahwa mereka diciptakan dalam bentuk fisik dan pesikis yang sempurna. Malaikat dan setan diperintahkan sujud dengan nabi adam kerena potensi positifnya. Tetapi pada saat yang sama manusia juga dikecam oleh Allah, karena memilaki berbagai kelemahan sepeti angkuh, sifat, tergesa-gesa, banyak membantah, suka berkeluh-kesah, melampaui batas jika merasa memiliki kelebihan, dan lainya. Berbagai kelemahan tersebut menjadi ladang sumber setan untuk mencapai segala tujuanya. Berikut uraian lebih lanjut (kama qola M. Quraish Shihab).


Ghurur/Congkak
Manusia sering kali tertipu oleh dirinya sendiri. Kondisi dan situasi sering kali membuat mereka menduga-duga berbagai dugaan positif maupun negatif. Gemerlap duniawi, sering kali menjadi faktor timbulnya Ghurur. Karena itu Al-qur'an mengingatkan: "Janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu, dan janganlah sekali-kali setan memperdaya kamu" (QS. Luqman [31]: 33).

Al-Qur'an menguraikan sekian banyak kisah orang yang ditimpa kelemahan ini. Salah satunya Abu Jahl, dia merasa dirinya mampu menyatakan bahwa: "Apakah muhammad tidak mengetahui bahwa tidak seorangpun yang banyak pendukungnya daripada saya?" Sikap Abu Jahl inilah yang didorong setan untuk mengobarkan perang badr, dimana ini menjadi perang pertama pada islam ke-2 hijriyah yang dipimpin langsung oleh Nabi bersama 313 orang pasukan dan menghadap lebih dari 1000 kaum musyrikin yang dimana endingnya Nabi dan pasukanya yang memenangkan perang badr ini.

Iri Hati
Ini merupakan pintu masuk bagi setan yang amat lapang, serta lahan yang amat subur baginya. Pembunuhan yang terjadi pertama kalinya antara anak Nabi adam as, justru disebabkan oleh kelemahan ini: "Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua anak adam (Habil dan Qobil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima oleh salah seorang dari mereka (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qobil). Ia (Qobil) bekata: "Aku pasti membunuhmu!"
Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa"
(QS. Al-ma'idah [5]: 27).
Penderitaan Nabi yusuf as. Yang dilukiskan dalam Al-Qur'an juga bersumber dari iri hati saudra-saudaranya: "Bunuhlah yusuf atau buanglah ia ke suatu daerah yang tidak dikenal" (QS. Yusuf [12]: 10). Begitulah bisikan nafsu mereka dikukuhkan oleh setan sehingga Nabi Yusuf as, dijerumuskan kesebuah sumur tua (QS. Yusuf [12]: 10).

Tamak
Keinginan yang menggebu untuk memperoleh sesuatu yang tidak wajar (tamanni) atau secara tidak wajar adalah ketamakan. Ukurlah kemampuan anda, kemudian berkeinginan dan berusahalah meaihnya. Ketahahuilah batasan kemampuan anda dan jangan melampaui batasan tersebut, terimalah apa yang dianugrahkan oleh Allah (Qona'ah) dan syukurilah anugrah itu. Harus diakui manusia mempunya karakter ambisius Rosulallah pun demikian. Beliau ingin agar seluruh ummat manusia beriman pada Allah, sampai-sampai Allah kasian pada beliau. "Engkau akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekianya mereka tidak beriman terhadap keterangan ini" (QS. Al-kahf [18]: 6).
Kata la'allaka yang digunakan ayat diatas mengandung makna belas kasih dan tidak tepat diartikan boleh jadi atau mudah-mudahan. Bagi Allah tidak ada sesuatu yang boleh jadi, apalagi mudah-mudahan. Keinginan Rosul saw, yang sedemikian menggebu mengundang banyak ayat Al-Qur'an mengingatkan bahwa beliau hanya bertugas untuk menyampaikan ajaran, bukan menjadikan mereka beriman (BERSAMBUNG MAN)kangnaim.blogspot.com/kelemahanmanusia

KAMPUS BERBASIS PESANTREN

KAMPUS BERBASIS PESANTREN

KAMPUS BERBASIS PESANTREN;
Menuju Sebuah Upaya Merekonstruksi Akar Keilmuan Islam
Jogja, dua tahun yang lalu; saya sangat terkejut mendengar sepenggal tandasan dari seorang guru besar sekaligus pimpinan tertinggi sebuah PTAIN ternama di kota Gudeg. Dalam sebuah forum diskusi beliau menegaskan bahwa tanggung jawab yang diemban kampus “hanyalah” sebatas tanggung jawab akademik-ilmiah semata. Kampus tidak ada urusan sama sekali dengan perilaku menyimpang mahaiswa-mahasiswinya ketika mereka berada di luar arena dan aktivitas kampus….!
Ketika itu, dua tahun yang lalu, tidak ada sedikitpun keberatan di benak saya atas pernyataan itu. Mungkin karena sang guru besar memberikan sederet argument yang begitu “kokoh tak tertandingi”, atau mungkin karena iklim akademik di Jogja yang salah satunya ditandai dengan “anti kemapanan”, menolak doktrin, kelaziman dan kewajaran.
Pernyataan itu terlontar sebagai sebuah jawaban atas gugatan masyarakat yang menjumpai kenyataan bahwa perguruan tinggi berbasis agama, khususnya Islam, seakan tidak peduli lagi dengan moralitas anak didiknya. Kasus pergaulan bebas, seks pra nikah, pacaran kebablasan yang kian marak sepertinya sudah dianggap sebagai sebuah kewajaran atau lebih menterengya “konsekuensi logis” dari kemoderenan. Agama diposisikan sebagai obyek kritisisme akal yang dengan sengaja sudah dipasung oleh paradiga rasionalitas. Fungsi guidance sudah tercabik dari agama dan seperangkat norma yang ada di dalamnya. Agama secara sistematis mulai terpojokkan ketika diposisikan sebagai urusan privat, elu-elu, gua-gua…..lakum dinukum wa liyadin…lana a’maluna wa lakum a’malukum.
Setelah dua tahun berlalu, ketika saya dihadapkan pada sebuah realitas yang senyatanya, ternyata pernyataan itu tidak lebih dari sekedar ego keilmuan dan sama sekali tidak benar. Bayangkan, bagaimana jadinya jika system pendidikan di Perguruan Tinggi sudah tidak mau lagi mengemban tanggung jawab moral pada anak didiknya..! Bayangkan jika para “guru besar” cuek dengan perilaku mahasiswa/i-nya…! Maka yang terjadi adalah “kerusakan berbalut keilmuan, kekafiran berbaju obyketifitas ilmiah….! Sangat mengerikan..
“Tapi, bukankah itu gejala yang mewabah di hampir semua perguruan Tinggi Islam?”
Pertanyaannya kemudian adalah; apakah kita akan terjebak pada pembenaran pola pikir seperti itu? Saya sendiri yakin dengan sepenuhnya, kita sejujurnya memiliki jawaban yang sama: TIDAK…!
Hanya saja untuk mengatakan jawaban itu kita mungkin tidak mampu, malu atau tidak mau. Mungkin karena gengsi dianggap tidak ilmiah, ketinggalan jaman, tradisionalis … atau mungkin karena kita tidak berani dengan konsekuensi jawaban TIDAK itu tadi.
Harus disadari, bahwa ketika tanggungjawab moral itu dibebankan pada perguruan tinggi, yang terbayang selanjutnya adalah betapa beratnya tanggung jawab itu. Tapi okelah…. Itu syah-syah saja.
Namun, ijinkan saya berbagi sedikit pengalaman, atau lebih tepatnya biarkan saya bercerita sedikit, tentang apa yang saya lihat dan saya hadapi saat ini;
Sekarang ini saya mengabdi di sebuah Perguruan Tinggi yang didirikan atas landasan nilai-nilai pesantren; STAIMAFA. Sebuah perguruan tinggi yang dengan kesahajaannya mengusung tekad untuk mengembalikan lagi “ruh Islam” yang kian pudar. Banyak hal unik di perguruan Tinggi tersebut; misalnya, jargon yang diusung adalah: TERBUKA UNTUK SIAPA SAJA dan KAMPUS BERBASIS PESANTREN.
Akan banyak pertanyaan bagaimana mungkin dua jargon itu; Bagaimana bisa kampus berbasis pesantren terbuka untuk siapa saja? apa dan bagaimana bentuk kampus berbasis pesantren? Apa nilai-nilai kepesantrenan yang dapat dijadikan sebagai landasan keilmuan kampus? Dan sebagainya.
Pertanyaan-pertanyaan itu juga yang sempat menggelitik benak saya, sebelum akhirnya sebuah jawaban yang begitu jelas terlontar dari bibir hadratusy syaikh Sahal Mahfudz. Ringkasnya saya bahasakan ulang demikian:
“Kampus berbasis pesantren jangan pernah samakan dengan wajah paling luar pondok pesantren yang biasanya kumuh, tidak teratur, malas, tradisional, kolot dan sebutan-sebutan lain yang tidak nyaman didengar. Basis pesantren di sini adalah nilai-nilai luhur yang menjadi ruh terdalam dari pesantren. Paling tidak, ada tiga nilai luhur pesantren yang dimaksud; 1) tradisi akademik; 2) tradisi riset dan 3) tradisi pengabdian masyarakat.”
Beliau mencontohkan, bahwa di pesantren salaf sekalipun sudah sejak lama mengenal bahsul masail dan kajian kitab-kitab klasik dari berbagai cabang ilmu agama, jauh sebelum muncul system pendidikan modern. Tradisi itu begitu kentalnya dan sudah menjadi cirri khas pesantren. Apa lagi namanya kalau bukan tradisi akademik ilmiah? Pesaantren juga mengenal berbagai metode ilmiah terapan yang langsung bersinggungan dengan realitas social. Sebagai contoh metode istiqra’ yang dikembangkan imam syafii adalah bukti sahih bahwa pesantren sudah terbiasa dengan tradisi riset. Bagaimana dengan pengabdian pada masyarakat? Jauh sebelum Perguruan Tinggi mendengungkan Tri Bakti, pesantren telah memiliki akar tradisi pengabdian pada mayarakat yang sangat kokoh dan lebih nyata. Ketika kampus hanya mampu menterjemahkan pengabdian dengan sekedar “KKN”, pesantren sudah sejak lama menerjunkan para santrinya untuk berdakwah dan membangun akidah, moral bahkan ekonomi masyarakat di manapu berada, dari pelosok pedalaman hingga ke tengah kota.
Penjelasan di atas kiranya cukuplah sebagai jawaban atas berbagai pertanyaan yang selama ini mengganggu pikiran saya. Tiga nilai kepesantrenan di atas jauh melampaui Tri Dharma Bakti Perguruan Tinggi. Bahkan selain ketiganya, masih banyak nilai luhur yang dimiliki pesantren. Menurut saya salah satunya yang paling penting adalah tradisi “etika praktis”. Pesantren tidak hanya mengajari santri-santrinya untuk membaca kitab-kitab akhlak, tetapi sekaligus mendorong dan mengharuskan secara sistematis agar akhlak tersebut benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan untuk urusan yang paling kecil. Belum lagi nilai aqidah yang tertanam dengan kuat di pesantren. Tidak mustahil jika kesemua itu diterapkan dengan benar akan melahirkan “insan kamil”.
Di atas timbunan nilai-nilai luhur itulah STAIMAFA dibangun dan didirikan. Simak lagi, tiga program studi yang dibuka sangat relelevan dengan kondisi kekinian kebutuhan masyarakat; Prodi Perbankan Syari’ah, Prodi Pengembangan Masyarakat Islam dan Prodi Pendidikan Bahasa Arab.
Dalam hati saya selalu meyakini; inilah bakal kampus Islam masa depan, yang tidak hanya menjadikan anak didiknya cerdas, kritis dan kreatif. Tetapi juga memberikan bekal skill dan wawasan yang memadai untuk berkompetisi di era global seperti sekarang ini. Semoga Allah memberkahi. Amin.
STAIMAFA
Jl. Pati-Tayu KM. 18 Waturoyo Margoyoso Pati Jawa Tengah 59154 Telp. 0295 5501999, fax. (0295) 4150172; email: staimafa@yahoo.com

Artikel Dikutip Dari Blog: kangdim.wordpress.com

Powered By Blogger
kangnaim.blogspot.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 05 Maret 2010

KELEMAHAN MANUSIA

"Kelemahan manusia" ibarat lahan yang sangat subur bagi setan untuk mencapai tujuanya. Jika sarana sarana yang digunakanya dalam lahan tersebut, tidak diragukan lagi setan pasti berhasil. Memang manusia selalu dipuji Allah dalam berbagai ayat, bahkan Allah sangat memulyakan manusia bahwa mereka diciptakan dalam bentuk fisik dan pesikis yang sempurna. Malaikat dan setan diperintahkan sujud dengan nabi adam kerena potensi positifnya. Tetapi pada saat yang sama manusia juga dikecam oleh Allah, karena memilaki berbagai kelemahan sepeti angkuh, sifat, tergesa-gesa, banyak membantah, suka berkeluh-kesah, melampaui batas jika merasa memiliki kelebihan, dan lainya. Berbagai kelemahan tersebut menjadi ladang sumber setan untuk mencapai segala tujuanya. Berikut uraian lebih lanjut (kama qola M. Quraish Shihab).


Ghurur/Congkak
Manusia sering kali tertipu oleh dirinya sendiri. Kondisi dan situasi sering kali membuat mereka menduga-duga berbagai dugaan positif maupun negatif. Gemerlap duniawi, sering kali menjadi faktor timbulnya Ghurur. Karena itu Al-qur'an mengingatkan: "Janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu, dan janganlah sekali-kali setan memperdaya kamu" (QS. Luqman [31]: 33).

Al-Qur'an menguraikan sekian banyak kisah orang yang ditimpa kelemahan ini. Salah satunya Abu Jahl, dia merasa dirinya mampu menyatakan bahwa: "Apakah muhammad tidak mengetahui bahwa tidak seorangpun yang banyak pendukungnya daripada saya?" Sikap Abu Jahl inilah yang didorong setan untuk mengobarkan perang badr, dimana ini menjadi perang pertama pada islam ke-2 hijriyah yang dipimpin langsung oleh Nabi bersama 313 orang pasukan dan menghadap lebih dari 1000 kaum musyrikin yang dimana endingnya Nabi dan pasukanya yang memenangkan perang badr ini.

Iri Hati
Ini merupakan pintu masuk bagi setan yang amat lapang, serta lahan yang amat subur baginya. Pembunuhan yang terjadi pertama kalinya antara anak Nabi adam as, justru disebabkan oleh kelemahan ini: "Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua anak adam (Habil dan Qobil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima oleh salah seorang dari mereka (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qobil). Ia (Qobil) bekata: "Aku pasti membunuhmu!"
Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa"
(QS. Al-ma'idah [5]: 27).
Penderitaan Nabi yusuf as. Yang dilukiskan dalam Al-Qur'an juga bersumber dari iri hati saudra-saudaranya: "Bunuhlah yusuf atau buanglah ia ke suatu daerah yang tidak dikenal" (QS. Yusuf [12]: 10). Begitulah bisikan nafsu mereka dikukuhkan oleh setan sehingga Nabi Yusuf as, dijerumuskan kesebuah sumur tua (QS. Yusuf [12]: 10).

Tamak
Keinginan yang menggebu untuk memperoleh sesuatu yang tidak wajar (tamanni) atau secara tidak wajar adalah ketamakan. Ukurlah kemampuan anda, kemudian berkeinginan dan berusahalah meaihnya. Ketahahuilah batasan kemampuan anda dan jangan melampaui batasan tersebut, terimalah apa yang dianugrahkan oleh Allah (Qona'ah) dan syukurilah anugrah itu. Harus diakui manusia mempunya karakter ambisius Rosulallah pun demikian. Beliau ingin agar seluruh ummat manusia beriman pada Allah, sampai-sampai Allah kasian pada beliau. "Engkau akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekianya mereka tidak beriman terhadap keterangan ini" (QS. Al-kahf [18]: 6).
Kata la'allaka yang digunakan ayat diatas mengandung makna belas kasih dan tidak tepat diartikan boleh jadi atau mudah-mudahan. Bagi Allah tidak ada sesuatu yang boleh jadi, apalagi mudah-mudahan. Keinginan Rosul saw, yang sedemikian menggebu mengundang banyak ayat Al-Qur'an mengingatkan bahwa beliau hanya bertugas untuk menyampaikan ajaran, bukan menjadikan mereka beriman (BERSAMBUNG MAN)kangnaim.blogspot.com/kelemahanmanusia

Rabu, 25 November 2009

KAMPUS BERBASIS PESANTREN

KAMPUS BERBASIS PESANTREN

KAMPUS BERBASIS PESANTREN;
Menuju Sebuah Upaya Merekonstruksi Akar Keilmuan Islam
Jogja, dua tahun yang lalu; saya sangat terkejut mendengar sepenggal tandasan dari seorang guru besar sekaligus pimpinan tertinggi sebuah PTAIN ternama di kota Gudeg. Dalam sebuah forum diskusi beliau menegaskan bahwa tanggung jawab yang diemban kampus “hanyalah” sebatas tanggung jawab akademik-ilmiah semata. Kampus tidak ada urusan sama sekali dengan perilaku menyimpang mahaiswa-mahasiswinya ketika mereka berada di luar arena dan aktivitas kampus….!
Ketika itu, dua tahun yang lalu, tidak ada sedikitpun keberatan di benak saya atas pernyataan itu. Mungkin karena sang guru besar memberikan sederet argument yang begitu “kokoh tak tertandingi”, atau mungkin karena iklim akademik di Jogja yang salah satunya ditandai dengan “anti kemapanan”, menolak doktrin, kelaziman dan kewajaran.
Pernyataan itu terlontar sebagai sebuah jawaban atas gugatan masyarakat yang menjumpai kenyataan bahwa perguruan tinggi berbasis agama, khususnya Islam, seakan tidak peduli lagi dengan moralitas anak didiknya. Kasus pergaulan bebas, seks pra nikah, pacaran kebablasan yang kian marak sepertinya sudah dianggap sebagai sebuah kewajaran atau lebih menterengya “konsekuensi logis” dari kemoderenan. Agama diposisikan sebagai obyek kritisisme akal yang dengan sengaja sudah dipasung oleh paradiga rasionalitas. Fungsi guidance sudah tercabik dari agama dan seperangkat norma yang ada di dalamnya. Agama secara sistematis mulai terpojokkan ketika diposisikan sebagai urusan privat, elu-elu, gua-gua…..lakum dinukum wa liyadin…lana a’maluna wa lakum a’malukum.
Setelah dua tahun berlalu, ketika saya dihadapkan pada sebuah realitas yang senyatanya, ternyata pernyataan itu tidak lebih dari sekedar ego keilmuan dan sama sekali tidak benar. Bayangkan, bagaimana jadinya jika system pendidikan di Perguruan Tinggi sudah tidak mau lagi mengemban tanggung jawab moral pada anak didiknya..! Bayangkan jika para “guru besar” cuek dengan perilaku mahasiswa/i-nya…! Maka yang terjadi adalah “kerusakan berbalut keilmuan, kekafiran berbaju obyketifitas ilmiah….! Sangat mengerikan..
“Tapi, bukankah itu gejala yang mewabah di hampir semua perguruan Tinggi Islam?”
Pertanyaannya kemudian adalah; apakah kita akan terjebak pada pembenaran pola pikir seperti itu? Saya sendiri yakin dengan sepenuhnya, kita sejujurnya memiliki jawaban yang sama: TIDAK…!
Hanya saja untuk mengatakan jawaban itu kita mungkin tidak mampu, malu atau tidak mau. Mungkin karena gengsi dianggap tidak ilmiah, ketinggalan jaman, tradisionalis … atau mungkin karena kita tidak berani dengan konsekuensi jawaban TIDAK itu tadi.
Harus disadari, bahwa ketika tanggungjawab moral itu dibebankan pada perguruan tinggi, yang terbayang selanjutnya adalah betapa beratnya tanggung jawab itu. Tapi okelah…. Itu syah-syah saja.
Namun, ijinkan saya berbagi sedikit pengalaman, atau lebih tepatnya biarkan saya bercerita sedikit, tentang apa yang saya lihat dan saya hadapi saat ini;
Sekarang ini saya mengabdi di sebuah Perguruan Tinggi yang didirikan atas landasan nilai-nilai pesantren; STAIMAFA. Sebuah perguruan tinggi yang dengan kesahajaannya mengusung tekad untuk mengembalikan lagi “ruh Islam” yang kian pudar. Banyak hal unik di perguruan Tinggi tersebut; misalnya, jargon yang diusung adalah: TERBUKA UNTUK SIAPA SAJA dan KAMPUS BERBASIS PESANTREN.
Akan banyak pertanyaan bagaimana mungkin dua jargon itu; Bagaimana bisa kampus berbasis pesantren terbuka untuk siapa saja? apa dan bagaimana bentuk kampus berbasis pesantren? Apa nilai-nilai kepesantrenan yang dapat dijadikan sebagai landasan keilmuan kampus? Dan sebagainya.
Pertanyaan-pertanyaan itu juga yang sempat menggelitik benak saya, sebelum akhirnya sebuah jawaban yang begitu jelas terlontar dari bibir hadratusy syaikh Sahal Mahfudz. Ringkasnya saya bahasakan ulang demikian:
“Kampus berbasis pesantren jangan pernah samakan dengan wajah paling luar pondok pesantren yang biasanya kumuh, tidak teratur, malas, tradisional, kolot dan sebutan-sebutan lain yang tidak nyaman didengar. Basis pesantren di sini adalah nilai-nilai luhur yang menjadi ruh terdalam dari pesantren. Paling tidak, ada tiga nilai luhur pesantren yang dimaksud; 1) tradisi akademik; 2) tradisi riset dan 3) tradisi pengabdian masyarakat.”
Beliau mencontohkan, bahwa di pesantren salaf sekalipun sudah sejak lama mengenal bahsul masail dan kajian kitab-kitab klasik dari berbagai cabang ilmu agama, jauh sebelum muncul system pendidikan modern. Tradisi itu begitu kentalnya dan sudah menjadi cirri khas pesantren. Apa lagi namanya kalau bukan tradisi akademik ilmiah? Pesaantren juga mengenal berbagai metode ilmiah terapan yang langsung bersinggungan dengan realitas social. Sebagai contoh metode istiqra’ yang dikembangkan imam syafii adalah bukti sahih bahwa pesantren sudah terbiasa dengan tradisi riset. Bagaimana dengan pengabdian pada masyarakat? Jauh sebelum Perguruan Tinggi mendengungkan Tri Bakti, pesantren telah memiliki akar tradisi pengabdian pada mayarakat yang sangat kokoh dan lebih nyata. Ketika kampus hanya mampu menterjemahkan pengabdian dengan sekedar “KKN”, pesantren sudah sejak lama menerjunkan para santrinya untuk berdakwah dan membangun akidah, moral bahkan ekonomi masyarakat di manapu berada, dari pelosok pedalaman hingga ke tengah kota.
Penjelasan di atas kiranya cukuplah sebagai jawaban atas berbagai pertanyaan yang selama ini mengganggu pikiran saya. Tiga nilai kepesantrenan di atas jauh melampaui Tri Dharma Bakti Perguruan Tinggi. Bahkan selain ketiganya, masih banyak nilai luhur yang dimiliki pesantren. Menurut saya salah satunya yang paling penting adalah tradisi “etika praktis”. Pesantren tidak hanya mengajari santri-santrinya untuk membaca kitab-kitab akhlak, tetapi sekaligus mendorong dan mengharuskan secara sistematis agar akhlak tersebut benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan untuk urusan yang paling kecil. Belum lagi nilai aqidah yang tertanam dengan kuat di pesantren. Tidak mustahil jika kesemua itu diterapkan dengan benar akan melahirkan “insan kamil”.
Di atas timbunan nilai-nilai luhur itulah STAIMAFA dibangun dan didirikan. Simak lagi, tiga program studi yang dibuka sangat relelevan dengan kondisi kekinian kebutuhan masyarakat; Prodi Perbankan Syari’ah, Prodi Pengembangan Masyarakat Islam dan Prodi Pendidikan Bahasa Arab.
Dalam hati saya selalu meyakini; inilah bakal kampus Islam masa depan, yang tidak hanya menjadikan anak didiknya cerdas, kritis dan kreatif. Tetapi juga memberikan bekal skill dan wawasan yang memadai untuk berkompetisi di era global seperti sekarang ini. Semoga Allah memberkahi. Amin.
STAIMAFA
Jl. Pati-Tayu KM. 18 Waturoyo Margoyoso Pati Jawa Tengah 59154 Telp. 0295 5501999, fax. (0295) 4150172; email: staimafa@yahoo.com

Artikel Dikutip Dari Blog: kangdim.wordpress.com

Followers

About Me

Foto Saya
Ahmad Ulin Na'im
wedarijaksa, pati, Indonesia
Halo.... yang di sana jangan bengong aja yaa....
Lihat profil lengkapku

Links

Status YM

Cari di blog ini

Cuap-Cuap

Tamu